Senin, 30 Maret 2015

HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

Dokter dan HNPku 27 Desember 2013 pukul 17:41 Agustus 2013 aku positif terkena HNP atau Hernia Nukleus Pulposus atau saraf kejepit Sacral/sakrum( tulang belakang ke arah tulang pantat dan Coccyx tulang ekor) atau S1-S5. Awalnya pernah jatuh di tahun 1994 ditambah pasca melahirkan, sehingga tulang belakangku mengalami pergeseran. Dampaknya baru terasa sekarang, dipakai duduk lama sakitnya luar biasa, serba salah seperti orang yang terkena ambein kali yah, sakitnya luar biasa. Awalnya aku pikir cuma pegel-pegel, masuk angin, atau kurang minum. Tapi lebih terasa sakit jika sudah pulang kerja, kemudian duduk, dipakai jalan aku sudah terpincang-pincang sambil menahan sakit yang berkepanjangan. Kata dokter jika dibiarkan, aku bisa lumpuh. Sejak Agustus aku menjalani pengobatan terapi dengan UKG/diathermia pada tulang pantat, Traksi lumbal, Electrical stimulation/ neodynator vaccum lumbal, Ultrasonic lumbal gluteus sudah 24x, Laser sudah 20x. Nopember 2013 aku pun terkena Tennis elbow disekitar tangan bagian kanan, otomatis tangan kananku tidak terlalu bagus untuk mengangkat-angkat sesuatu, rasanya nyeri dan ngilu jika dipakai secara berlebihan. Akhir Nopember 2013 aku ambil cuti berobat secara intensif, dokter Lilis yang menangani aku begitu senang mendengar aku cuti, langsung saja dokter merancang dalam waktu sebulan penuh untuk laser dan terapi terus menerus. dan memang benar-benar sebulan penuh aku manfaatkan, sampai-sampai aku kehabisan ongkos, akhirnya aku cari pinjaman buat ongkos saja. Hari ini 27 Desember 2013 cutiku habis, dan sisa terapi aku tinggal 2x lagi, tanggal 3 Januari 2014 aku harus konsul lagi dengan dokter Lilis, aku berharap sekali aku tak perlu memperpanjang pengobatanku. Dokter Lilis begitu baik dan sabar dalam menghadapi aku yang bawel, dokter Lilis sering mengingatkan aku awal aku berobat yang jalan sambil dipapah, sekarang aku bisa jalan sendiri, sering kali dokter mengingatkan aku untuk tidak cape, stres, naik turun tangga, mengangkat sesuatu yang berat, sekarang sang dokter yang bawel karena takut aku sakit lagi.Karena terlalu lamanya aku berobat, aku sampai punya teman yang senasib, ada bu Donna, bu Nia, bu Lilis, dan bu Rita. Kami sering kali berlomba untuk tidak mendapatkan perpanjangan pengobatan. Sejak aku cuti, aku banyak merenung, aku harus sembuh, aku harus mengubah apa yang tidak baik buat tubuhku. Aku engga bisa lagi bergaya seradak seruduk, gayaku harus seperti putri solo yang lembut dalam bersikap, perlahan-lahan, tidak ngoyo dalam bekerja yang harus selesai dan beres secepatnya, menghadapi hidup dengan gaya yang santai tidak stres. tahu engga teman dengan penyakit HNP ini hidup benar-benar santai kalau tidak mau kumat lagi, dalam berobatnya saja aku hadapi dengan santai terapi jam 9 pagi bisa selesai jam 10.30, belum lagi nunggu dokter yang paling cepat datang jam 11 siang, dengan banyak pasiennya, hitung saja jika satu pasien dilaser bisa 1/4 atau 1/2 jam x banyaknya pasien. Tidak seperti dokter lainnya datang, daftar, panggil dokter, selesai pulang, dengan dokter ahli fisioterapi tidaklah seperti dokter umum. Kini, walaupun tubuhku harus pakai alat bantu penahan sakit pada tulang punggungku dengan korset, lututku dengan knee support, dan sikuku dengan elbow support, aku sangat bersyukur padaMu. Terimakasih aku ucapkan kepada dokter Lilis, bapak Sutrisno, bu Dzannah, bu Een, bu Linna, om Husni, suami serta anak-anakku, Queena, keluargaku, mamah Farhan, teman-teman guru, bunda Yeni, teman-teman sekolah guru, seluruh saudara muslim dan muslimat yang sudah mendoakan aku untuk sembuh. Aku harus sembuh untuk kalian, mohon maaf sudah membuat susah, sudah meninggalkan kalian buat berobat, dan yang tertinggi kepada Yang Maha Memberi Hidup dan Kehidupan. Aamiin YRA.