Rabu, 30 September 2015
Entah dari mana aku harus menuliskan semua. Semua penuh dalam otakku, berjejalan, berdesakan, hingga rasanya campur aduk.
Aku coba mengingat kejadian satu persatu kejadian. Mungkin benar kata orang semua bukan faktor kebetulan, semua merupakan satu jalan kehidupan yang harus aku lalui, harus aku jalani, dan harus aku hadapi. Tuhan bantu aku terus dalam jalanMu, seperti yang pernah Engkau berikan kepadaku ketika aku menghadapi sakit.
4 juli 2015 kalau tidak salah hari Sabtu,jelang ulangtahunku yang ke 44 tahun. seperti biasa sabtu jika tidak ada kegiatan di sekolah aku pergunakan buat ke klinik dan rumah sakit. Jam 7 pagi aku sudah di klinik dan seperti biasanya klinik di hari sabtu begitu padat sehingga aku harus mengantri beberapa nomor. aku tidak terlalu memperhatikan jam ketika selesai terapi, tapi sudah biasanya aku langsung menuju ke tempat berikutnya adalah rumah sakit umum daerah kota bogor, karena aku harus dicek oleh dokter anna mariam seorang dokter THT yang amat baik dan sabar. Jam 11 pengambilan no pendaftaran dibuka, aku ambil no antrian dokter buat sore hari. setelah dapat no, akupun pulang naik angkot, karena bulan puasa jalanan begitu padatnya sehingga sampai di rumah aku pukul 13. aku berpikir masih ada waktu buat sholat dhuzur, tidur karena nanti jam 16 sore aku harus kembali ke rumah sakit daerah kota bogor.Begitu lelahnya aku dengan tidur yang singkat tapi subhanallah nikmatnya. jam 14 aku dibangunkan suami, dalam keadaan setengah sadar aku menjawab, jam berapa sih? jujur aku masih mengantuk, semangat amat?!
Yah... kata-kata semangat amat membuat suami amat sangat marah dan inilah yang membuat awal sumber masalah. aku terpaksa bangun, mengatur strategi buat hari ini karena berbenturan jadwal ke dokter dan keinginan suami berbelanja keperluan lebaran. keperluan lebaran bagi suamiku merupakan kebutuhan yang utama, padahal aku melihat anak-anak begitu nyantai tidak ada yang membahas segala pernik lebaran. akhirnya aku ditemani mas ke rumah sakit hingga tuntas hari itu.pulang dari rumah sakit aku mampir ke bunderan yasmin buat beli bukaan puasa kesukaan suami dan anak-anak.
Entah setan mana yang masih mendompleng dirimu, kamu masih marah... marah yang sangat. 20 tahun berumah tangga aku baru melihat kamu begitu marah, sambil mengucapkan kata-kata TAI kepadaku dan mengangkat kursi hendak dilemparkan kepadaku. sambil menangis aku berucap jika sudah tidak suka engga usah pakai menghina, air mata ini begitu tak menerimanya kata-kata itu. sakit...sakit sekali. tapi jangan salah sejak itu aku serasa terbangun dari tidur panjangku. aku serasa diingatkan kembali kejadian-kejadian lampau, yang subhanallah selama 20 tahun hanya kesedihan, kepedihan, kesengsaraan belaka yang mampu kau berikan buat aku dan anak-anak, janji-janji manis yang entah sampai kapan terleasilir. Kata maaf seperti biasa meluncur dari bibirmu tapi bukan dari hatimu. selalu berulang menyakiti, melayani dengan penuh kesempurnaan.
Sabtu, 27 Juni 2015
Juni 2015
Juni 2015 adalah bulan keenam setelah aku menjalani fasting. Aku mulai share tentang kesehatan, mulai share tentang food combination yang sebenernya tidak jauh berbeda. Aku terus minta sama Allah agar aku benar-benar sembuh. Saat ini yang aku rasakan adalah tenggorokanku seperti orang radang tenggorokan, sakit jika menelan, dahak terasa mengganjal, sesekali membuat aku susah bernafas. Allah, aku tidak mau tau aku sakit apa tapi tolonglah aku untuk memberiku sehat karena aku benar-benar minta, aku sudah ikhtiar kemana-mana. Aku yakin Allah dengar doaku, aku yakin Allah akan mengabulkannya, Aamiin YRA
Jumat, 01 Mei 2015
Januari 2015
Tapi yang jelas bukan sebuah kebetulan. Allah sudah menuliskannya dan mempertemukan aku harus bagaimana dalam menapaki kehidupan ini. Sepulang kegiatan terapi batu germanium, aku bertemu mamah Dul. Kami berbicang cukup akrab dan panjang lebar, yang tentunya tidak jauh dari sakitnya aku.Singkat cerita mamah Dul memberikan aku nomor kontak seorang kenalannya yang super..super baiknya. Namanya Mba Lily, secara langsung saja aku dan mba lily langsung bisa akrab. Padahal sebelumnya kami tidak saling kenal.
19 januari 2015, aku dan mba lily langsung janjian di klinik Wen Zhong, nama yang asing ditelingaku. Tapi insyaallah inilah langkah baik aku.Langkah pertama adalah bertemu seorang dokter yang cakep, masih muda, tapi subhanallah... konsultasi dimulai. Dokter ini seperti tahu isi hati ini, galaunya aku selama ini, berharap kesembuhan datang lewat bantuan mba li juga dokter Winata Wijaya. Cek laboratorium fungsi organ pun dimulai, alhamdulillah hasilnya baik semua mulai jantung, penkreas, liver, ginjal, dan paru-paru. Padahal selama ini aku banyak minum obat kimia mulai saraf kejepit, syaraf karena aku sakit kepala, tyroid, sampai obat dari dokter kulit.Sekali lagi Allah telah menunjukkan kebesarannya kepadaku. NIKMAT MANA YANG DAPAT KAMU DUSTAKAN'WI?
Selesai cek lab. aku mulai menjalani refleksi, kop, akupuntur, dan yang tak kalah penting mengubah pola makan.Empat bulan sudah aku berhasil mengubah pola makan ini. Hampir 80% yang aku makan adalah serat yang berasal dari buah-buahan semua jenis, sayur-sayuran semua jenis, lauk pauk yang hampir tak tersentuh lagi MINYAK GORENG! Perlahan tapi pasti Allah memperlihatkan kebesarannya kepadaku, aku hampir mengenali tubuhku sendiri,jika terasa pusing aku langsung makan yang tentunya tidak tersentuh minyak goreng. Sekarang ini aku lebih sering kekurangan nutrisi ataupun kalori.Pengobatan tyroid secara rutin tetep aku jalani di RS Marzuki Mahdi setiap bulannya, dokter Erwanto begitu sabar dan telitinya. Obat masih terus harus aku minum. Di tahun kedua ini tyroid pun mulai membaik, Subhanallah Allah Maha Besar! Aku terus berbuat baik dan berbaik sangkaan kepada Allah. Dia yang sudah memberiku sakit, mengajariku sabar,dan terus mengajariku sabar. Terimakasih Allah atas apa yang sudah Kau berikan padaku selama dua tahun ini.Terima kasih Ibuku, suamiku, anak-anakku, kakak dan adikku, teman-temanku, terhormat Bapak dan Ibu Sutrisno, Bapak Sudirman,Bapak Heru Tarusan Belom, Bu Een, Bu Mia, Bu Sri Mulyati, Bu Yayah, anak-anak kelas 6 angkatan 23.
Senin, 30 Maret 2015
HNP (Hernia Nukleus Pulposus)
Dokter dan HNPku
27 Desember 2013 pukul 17:41
Agustus 2013 aku positif terkena HNP atau Hernia Nukleus Pulposus atau saraf kejepit Sacral/sakrum( tulang belakang ke arah tulang pantat dan Coccyx tulang ekor) atau S1-S5. Awalnya pernah jatuh di tahun 1994 ditambah pasca melahirkan, sehingga tulang belakangku mengalami pergeseran. Dampaknya baru terasa sekarang, dipakai duduk lama sakitnya luar biasa, serba salah seperti orang yang terkena ambein kali yah, sakitnya luar biasa. Awalnya aku pikir cuma pegel-pegel, masuk angin, atau kurang minum. Tapi lebih terasa sakit jika sudah pulang kerja, kemudian duduk, dipakai jalan aku sudah terpincang-pincang sambil menahan sakit yang berkepanjangan. Kata dokter jika dibiarkan, aku bisa lumpuh. Sejak Agustus aku menjalani pengobatan terapi dengan UKG/diathermia pada tulang pantat, Traksi lumbal, Electrical stimulation/ neodynator vaccum lumbal, Ultrasonic lumbal gluteus sudah 24x, Laser sudah 20x. Nopember 2013 aku pun terkena Tennis elbow disekitar tangan bagian kanan, otomatis tangan kananku tidak terlalu bagus untuk mengangkat-angkat sesuatu, rasanya nyeri dan ngilu jika dipakai secara berlebihan.
Akhir Nopember 2013 aku ambil cuti berobat secara intensif, dokter Lilis yang menangani aku begitu senang mendengar aku cuti, langsung saja dokter merancang dalam waktu sebulan penuh untuk laser dan terapi terus menerus. dan memang benar-benar sebulan penuh aku manfaatkan, sampai-sampai aku kehabisan ongkos, akhirnya aku cari pinjaman buat ongkos saja.
Hari ini 27 Desember 2013 cutiku habis, dan sisa terapi aku tinggal 2x lagi, tanggal 3 Januari 2014 aku harus konsul lagi dengan dokter Lilis, aku berharap sekali aku tak perlu memperpanjang pengobatanku. Dokter Lilis begitu baik dan sabar dalam menghadapi aku yang bawel, dokter Lilis sering mengingatkan aku awal aku berobat yang jalan sambil dipapah, sekarang aku bisa jalan sendiri, sering kali dokter mengingatkan aku untuk tidak cape, stres, naik turun tangga, mengangkat sesuatu yang berat, sekarang sang dokter yang bawel karena takut aku sakit lagi.Karena terlalu lamanya aku berobat, aku sampai punya teman yang senasib, ada bu Donna, bu Nia, bu Lilis, dan bu Rita. Kami sering kali berlomba untuk tidak mendapatkan perpanjangan pengobatan.
Sejak aku cuti, aku banyak merenung, aku harus sembuh, aku harus mengubah apa yang tidak baik buat tubuhku. Aku engga bisa lagi bergaya seradak seruduk, gayaku harus seperti putri solo yang lembut dalam bersikap, perlahan-lahan, tidak ngoyo dalam bekerja yang harus selesai dan beres secepatnya, menghadapi hidup dengan gaya yang santai tidak stres. tahu engga teman dengan penyakit HNP ini hidup benar-benar santai kalau tidak mau kumat lagi, dalam berobatnya saja aku hadapi dengan santai terapi jam 9 pagi bisa selesai jam 10.30, belum lagi nunggu dokter yang paling cepat datang jam 11 siang, dengan banyak pasiennya, hitung saja jika satu pasien dilaser bisa 1/4 atau 1/2 jam x banyaknya pasien. Tidak seperti dokter lainnya datang, daftar, panggil dokter, selesai pulang, dengan dokter ahli fisioterapi tidaklah seperti dokter umum. Kini, walaupun tubuhku harus pakai alat bantu penahan sakit pada tulang punggungku dengan korset, lututku dengan knee support, dan sikuku dengan elbow support, aku sangat bersyukur padaMu.
Terimakasih aku ucapkan kepada dokter Lilis, bapak Sutrisno, bu Dzannah, bu Een, bu Linna, om Husni, suami serta anak-anakku, Queena, keluargaku, mamah Farhan, teman-teman guru, bunda Yeni, teman-teman sekolah guru, seluruh saudara muslim dan muslimat yang sudah mendoakan aku untuk sembuh. Aku harus sembuh untuk kalian, mohon maaf sudah membuat susah, sudah meninggalkan kalian buat berobat, dan yang tertinggi kepada Yang Maha Memberi Hidup dan Kehidupan. Aamiin YRA.
Langganan:
Komentar (Atom)

